TOKSOPLASMOSIS adalah penyakit infeksi yang
disebabkan oleh protozoa obligat intraseluler yaitu Toksoplasma gondii.
Penyakit ini mempunyai gejala klinik dengan manifestasi yang sangat bervariasi
bahkan pada banyak pasien tidak menimbulkan gejala. Pada banyak pasien termasuk
bayi dan pasien dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah, toksoplasmosis dapat
mengancam jiwa. Pada bagian obstetri dan gynekologi, toksoplasmosis penting
karena dapat menyebabkan penyakit pada ibu yang tidak diketahui penyebabnya dan
sangat potensial menyebabkan infeksi bayi dalam kandungan yang dapat
menyebabkan keguguran, kematian bayi dalam kandungan, dan kecacatan pada bayi.
Siklus Hidup
Siklus hidup toksoplasma ada 5 tingkat :
·
fase proliferatif
·
stadium kista
·
fase schizogoni
·
gametogoni
·
fase ookista
Siklus aseksual terdiri dari fase
proliferasi dan stadium kista. Fase ini dapat terjadi dalam bermacam-macam
inang. Siklus seksual secara spesifik hanya terdapat pada kucing.
Fase proliferatif, yang menghasilkan tropozoit,
terjadi secara intraseluler dalam banyak jaringan saat terjadi infeksi primer.
Tropozoit menjadi berkurang jumlahnya pada saat imunitas inang terbentuk, dan
infeksi dapat masuk ke dalam stadium kronis. Apabila terjadi penurunan dan
penekanan daya tahan tubuh, tropozoit dapat kembali berproliferasi dan menjadi
banyak. Fase proliferasi ini juga terjadi saat pembelahan sel.
Kista dapat terbentuk setelah terjadi beberapa siklus
proliferasi dimana terbentuk tropozoit. Kista ini dapat terbentuk selama
infeksi kronis yang berhubungan dengan imunitas tubuh. Kista terbentuk intrasel
dan kemudian terdapat secara bebas di dalam jaringan sebagai stadium tidak
aktif dan dapat menetap dalam jaringan tanpa menimbulkan reaksi inflamasi.
Pada saat ini antibodi dapat menurun meskipun masih terdapat infeksi. Pada saat
daya tahan tubuh menurun dan pada saat fase proliferasi, kista tidak terbentuk.
Kista pada binatang yang terinfeksi menjadi infeksius bila termakan oleh
karnivora dan toksoplasma masuk melalui usus.
Siklus seksual Toksoplasma gondii hanya terdapat pada
kucing. Kucing dapat terinfeksi saat makan kista, pseudokista, atau ookista.
Kemudian tropozoit masuk ke dalam epitel usus kucing dan membentuk schizon dan
kemudian membentuk makrogamet dan mikrogamet. Ookista kemudian terbentuk dan
dikeluarkan bersama feses kucing 3-5 hari setelah terinfeksi dan menetap
didalamnya selama 1-2 minggu. Ookista kemudian menjadi sangat infeksius saat terjadi
sporulasi setelah 1-3 hari pada suhu 22º C. Ookista dapat bertahan pada
berbagai macam kondisi lingkungan dan pada udara bebas selama 1 tahun atau
lebih.
Infeksi pada manusia dapat terjadi saat makan daging
yang kurang matang, sayur-sayuran yang tidak dimasak, makanan yang
terkontaminasi kotorasn kucing, melalui lalat atau serangga. Juga ada
kemungkinan terinfeksi saat menghirup udara yang terdapat ookista yang
berterbangan.
Cara penularan lain yang sangat penting adalah pada
jalur maternofetal. Ibu yang mendapat infeksi akut saat kehamilannya dapat
menularkannya pada janin melalui plasenta. Risiko terjadinya infeksi janin dalam rahim meningkat
menuruit lamanya atau umur kehamilan. Pada ibu yang mendapat infeksi sebelum
terjadinya konsepsi sangat jarang menularkannnya pada janin. Meskipun resiko
infeksi meningkat sesuai umur kehamilan, tetapi > 90% dari infeksi yang
didapat saat trimester III biasanya tidak memberikan gejala saat bayi lahir.
Gejala Klinis
Pada toksoplasmosis kongenital berat dapat menyebabkan
kematian janin, tetapi pada keadaan yang lain, infeksi dapat tidak memberikan
gejala dan bayi dapat lahir normal. Kelainan pada janin dengan toksoplasmosis
kongenital dapat berupa gangguan pertumbuhan janin dalam rahim, hidrosefali,
anensefali, mikrosefali, korioretinitis. Pada bayi dapat juga lahir tanpa
gejala tetapi kemudian timbul gejala lambat seperti korioretinitis, katarak,
ikterus, mikrosefali, pneumonia, dan diare.
Komplikasi jangka panjang yang serius adalah timbulnya
kejang, retardasi mental dan gangguan penglihatan. Kebanyakan bayi yang
meninggal karena infeksi toksoplasma mengalami kerusakan yang berat pada otak.
Diagnosis
Pada pemeriksaan secara makroskopis, plasenta yang
terinfeksi biasanya membesar dan memperlihatkan lesi yang mirip dengan gambaran
khas dari eritroblastosis fetalis. Villi akan membesar, oedematus dan sering
immatur pada umur kehamilan. Diagnosis dapat ditegakkan dengan adanya gambaran
organisme dalam sel. Organisme sulit ditemukan pada plasenta, tetapi bila
ditemukan biasanya terdapat dalam bentuk kista di korion atau jaringan
subkorion. Identifikasi sering sulit, sebab sinsitium yang mengalami degenerasi
sering mirip dengan kista.
Pemeriksaan yang baru dan saat ini sering digunakan
adalah dengan enzyme-linnked immunosorbent assay (ELISA).
Pemeriksaan yang sering digunakan adalan dengan mengukur jumlah IgG, IgM atau
keduanya. IgM dapat terdeteksi lebih kurang 1 minggu setelah infeksi akut dan
menetap selama beberapa minggu atau bulan. IgG biasanya tidak muncul sampai
beberapa minggu setelah peningkatan IgM tetapi dalam titer rendah dapat menetap
sampai beberapa tahun.
Secara optimal, antibodi IgG terhadap toksoplasmosis
dapat diperiksa sebelum konsepsi, dimana adanya IgG yang spesifik untuk
toksoplasma memberikan petunjuk adanya perlindungan terhadap infeksi yang
lampau. Pada wanita hamil yang belum diketahui status serologinya, adanya titer
IgG toksoplasma yang tinggi sebaiknya diperiksa titer IgM spesifik toksoplasma.
Adanya IgM menunjukkan adanya infeksi yang baru saja terjadi, terutama dalam
keadaan titer yang tinggi. Tetapi harus diingat bahwa IgM dapat terdeteksi
selama lebih dari 4 bulan bila menggunakanfluorescent antibody test, dan
dapat lebih dari 8 bulan bila menggunakan ELISA.
Diagnosis prenatal dari toksoplasmosis kongenital
dapat juga dilakukan dengan kordosintesis dan amniosintesis dengan test
serologi untuk IgG dan IgM pada darah fetus. Adanya IgM menunjukkan adanya
infeksi akrena IgM tidak dapat melewati barier plasenta sedangkan IgG dapat
berasal dari ibu. Meskipun demikian antibodi IgM spesifik mungkin tidak dapat
ditemukan karena kemungkinan terbentuknya antibodi dapat terlambat pada janin
dan bayi.
Pedoman yang digunakan dalam menilai hasil serologi:
a.
Infeksi primer akut dapat dicurigai bila
o terdapatnya serokonversi IgG atau
peningkatan IgG 2-4 kali lipat dengan interval 2-3 minggu.
o
Terdapatnya IgA dan IgM positif menunjukkan infeksi
1-3 minggu yang lalu.
o
IgG avidity yang rendah
o
Hasil Sabin-Feldman/ IFA >300 IU/ml atau 1:1000
o
IgM-IFA 1:80 atau IgM-ELISA 2.600 IU/ml
b IgG yang rendah dan stabil tanpa
disertai IgM diperkirakan merupakan infeksi lampau.
c Satu kali pemeriksaan dengan IgG
dan IgM positif tidak dapat dipastikan sebagai infeksi akut dan harus dilakukan
pemeriksaan ulang atau pemeriksaan lain.
Penatalaksanaan
Infeksi toksoplasma pada ibu hamil dapat dicegah
dengan cara menghindari tertelannya kista atau ookista berbentuk spora dengan
menjaga kebersihan diri. Perlu kebiasaan mencuci tangan sebelum makan atau
setelah kontak dengan kucing/ kotoran kucing, memasak makanan sampai matang
benar (>66º C) dan menggunakan sarung tangan sewaktu berkebun. Buah-buahan
dan sayur mentah harus dicuci bersih dan makanan dilindungi supaya tidak
dihinggapi lalat, kecoa, dan serangga atau binatang lain yang mungkin dapat
membawa kontaminasi dari kotoran kucing.
Pengobatan terhadap ibu hamil yang terinfeksi akut
dengan tujuan mengurangi infeksi ke janin, dosis yang dianjurkan WHO adalah :
1. Kombinasi antara sulfa,
pirimethamin, dan asam folat dengan dosis :
Ø
Sulfonamide/ sulfadiazin 1000 mg per hari
Ø
Pirimethamin (Daraprim) 25 mg per hari
Ø
Asam folat 10 mg/ minggu (mencegah depresi sumsum
tulang)
Dosis ini diberikan selama 4
minggu dan diulang lagi dengan interval 4 minggu dengan maksimum 3 siklus
pemberian sampai terjadinya persalinan. Karena teratogenik maka kombinasi
pirimethamin dan sulfa baru dapat digunakan setelah kehamilan 20 minggu.
2.
Pada kehamilan trimester I digunakan spiramisin, suatu
antibiotika golongan makrolid dengan dosis 3x1 gram selama 4 minggu (9 juta
unit) dan diulang tiap 4 minggu.
Pencegahan
Ø
Hindari kontak dengan kucing, tanah & daging
mentah
Ø
Cuci tangan dengan sabun setelah memegang daging
mentah & sebelum makan
Ø
Jangan memegang mulut & mata pd waktu mengolah
daging mentah
Ø
Cuci sayur/lalap & buah
Ø
Hindari kontak dg bahan-bahan yang mungkin tercemar
kotoran kucing
Ø Pakai sarung tangan saat
berkebun1
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar