
Mengingat pak habibie saat diwawancarai di sebuah program televisi 2 tahun silam beliau menceritakan kisah perjalan hidupnya dengan bu ainun,
Pertemuan mereka diawali dari masa kecil mereka saat menduduki
bangku SMA, mereka adalah dua bintang kelas yang sangat populer di sekolah.
Akan tetapi, saat itu bu Ainun adalah jagoan sekolah yang terkenal agak tomboy
sedangkan pak Habibie (atau Roy, panggilan masa kecil beliau) adalah sosok
yangterkenal jago bidang saintis sedari duduk di bangku sekolah. Guru mereka
dahulu sering menjodohkan mereka berdua, akibat prestasinya yang tinggi di
sekolah. Tapi hal ini hanya dianggap lintas lalu oleh Roy.
Bu
Ainun sedari dulu memang primadona sekolah akan tetapi, hal tersebut tidak
menggetarkan hati Habibie remaja untuk mendekatiya. Sepulang dari luar negeri
untuk menempuh pendidikan, pak Habibie baru muali menyadari pesona bu Ainun,
saat bermain ke rumah temannya yang kebetulan adalah kakak dari bu Ainun.
Beliau
tiba-tiba melihat Ainun sedang memakai pakaian kasual kaos dengan celana jeans,
hal ini membuat Habibie terperangah dan beliau berkata
“Ainun,
mana mungkin gula merah menjadi gula pasir?"
kisah
ini berlanjut hingga akhirnya mereka dipertemukan menjadi satu di pelaminan.
Kata-kata yang saya ingat dari pak Habibie adalah
Trimakasih ya Allah Engkau lahirkan aku untuk
Ainun,dan Ainun untuk saya.
Trimakasih ya Allah Engkau pertemukan aku dengan
Ainun,dan Ainun dengan saya….
saat pak habiebie diwawancarai beliau menuturkan
"Dalam 48 tahun 10 hari kami
bersama,tak pernah kami berpisah..
Saya tidak
pernah menyangka ada perasaan yang sehebat ini„,tapi sekaligus perih juga…
Saya tidak
pernah bayangkan akan kehilangan seperti ini…
Tapi saya
yakin„walaupun separuh jiwa saya serasa pergi„
tapi Ibu
tetap tinggal di dalam ini (sambil menepuk dada)
Setiap saya
memejamkan mata„
saya merasa
bisa melihat Ibu di setiap ruangan ini..”
Kata
kata selanjutnya yang
beliau lontarkan diucapkan sedemikian rupa agar beliau bisa tegar tanpa separuh
jiwanya..
“Aku ingat
lekat sepasang mata dan senyumannya,
kini aku
merasakan bayang matanya menghilang perlahan – lahan.
Itu
masalahku, dan harus kuatasi itu.
ibu memang
sudah pergi, tapi dia tidak pernah pergi dari hati saya”
Dalam ceritanya, Habibie
mengenang kisah-kisahnya bersama Ainun selama 48 tahun 10 hari. Yang menarik,
Habibie sempat menuturkan diawal perkenalan dengan Ainun, dia tidak tertarik
karena kulit Ainun yang gelap.
"Namun, suatu hari saya ke rumahnya saat beliau sedang menjahit, saya bilang 'kok kamu bisa jadi cantik?' dari situlah kemudian saya jatuh cinta," ucap Habibie.
"Namun, suatu hari saya ke rumahnya saat beliau sedang menjahit, saya bilang 'kok kamu bisa jadi cantik?' dari situlah kemudian saya jatuh cinta," ucap Habibie.
Sebenarnya ini bukan tentang kematianmu, bukan itu.
Karena, aku tahu bahwa semua yang ada pasti menjadi tiada pada akhirnya,
dan kematian adalah sesuatu yang pasti,
dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi, aku sangat tahu itu.
Tapi yang membuatku tersentak sedemikian hebat,
adalah kenyataan bahwa kematian benar-benar dapat memutuskan kebahagiaan dalam diri
seseorang,
sekejap saja, lalu rasanya mampu membuatku menjadi nelangsa setengah mati,
hatiku seperti tak di tempatnya,
dan tubuhku serasa kosong melompong, hilang isi.
Kau tahu sayang,
rasanya seperti angin yang tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang.
Pada airmata yang jatuh kali ini, aku selipkan salam perpisahan panjang,
pada kesetiaan yang telah kau ukir, pada kenangan pahit manis selama kau ada,
aku bukan hendak mengeluh, tapi rasanya terlalu sebentar kau disini.
Mereka mengira aku lah kekasih yang baik bagimu sayang,
tanpa mereka sadari, bahwa kaulah yang menjadikan aku kekasih yang baik.
mana mungkin aku setia padahal memang kecenderunganku adalah mendua,
tapi kau ajarkan aku kesetiaan, sehingga aku setia,
kau ajarkan aku arti cinta, sehingga aku mampu mencintaimu seperti ini.
Selamat jalan,
Kau dari-Nya, dan kembali pada-Nya,
kau dulu tiada untukku, dan sekarang kembali tiada.
selamat jalan sayang,
cahaya mataku, penyejuk jiwaku,
selamat jalan,
calon bidadari surgaku …
Kini, Bu Ainun telah dipanggil yang Maha
Kuasa. Kini, kisah cinta selama 48 tahun 10 hari itu telah memasuki bagian akhir. Namun
kenangan atas cinta yang dahsyat itu tak akan pernah berakhir bagi Habibie.
Kenangan tentang cinta Ainun menjadi prasasti yang tergurat dalam hatinya. Dan
ia akan memelihara kenangan yang membahagiakan itu. Agar kelak menjadi teladan
yang abadi bagi siapapun.
saya benar-benar meneteskan air mata
ternyata di dunia ini ada juga kisah cinta manusia yang dilandasi dengan cinta
dan kasih yang murni..